Published On: 23/05/2013

Cemari Lingkungan, PT. BKA Wajib Bayar Kompensasi Kepada Warga

Tambang Konut Cemari Lingkungan, PT. BKA Wajib Bayar Kompensasi Kepada Warga

Aktivitas tambang di Konut

KONUT, Beritakendari.com-Pmerintah Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara menyatakan, perusahaan tambang nikel PT Bumi Konawe Abadi (BKA) wajib membayar kompensasi kepada warga. Pasalnya, perusahaan tersebut dinyatakan terbukti melakukan pencemaran lingkungan setelah dilakukan penelitian sampel air tambak yang positif terkontaminasi limbah Ore nikel.

Saat petemuan dengan kalangan DPRD Konut, Kamis (23/5), Kepala Bapedalda Muhardi Mustafa mengatakan, timnya beberapa waktu lalu telah melakukan pengambilan sampel di 12 titik lokasi sekitar penambangan. Sampel yang diambil dari tambak warga tersebut selanjutnya diuji di laboratorium Universitas Haluoleo Kendari. “Sebelumnya kami telah turun ke lapangan berdasarkan keluhan warga yang mengaku tambaknya sudah tercemar. Pada kesempatan itu kami mengambil sampel air tambak di 12 titik koordinat. Selain itu kami juga melakukan pengukuran kemiringan lereng,” kata Mustafa, kemarin.

Dari hasil uji laboratorium ditemukan, air tambak warga setempat mengandung unsur tembaga. Sedangkan unsur Ore nikel tidak terkandung didalamnya. Meski demikian pihaknya tetap membenarkan bahwa sudah terjadi pencemaran. “Hasil laboratorium menunjukkan bahwa sampel air banyak mengandung tembaga. Kami bisa mengasumsikan bahwa unsur logam tersebut berasal dari kendaraan-kendaraan dan alat berat yang beroperasi di areal penambangan,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa telah terjadi perlapisan di dasar tambak warga. Lapisan tanahnya berwarna merah dan dinyatakan itu adalah limbah Ore yang mengendap. Selain didalam tambak, limbah tersebut juga bisa diliat pada daun-daun pohon disekitarnya yang berubah menjadi berwarna merah.

“Alat untuk meneliti tanah belum ada. Tetapi kita bisa melihat secara kasat mata. Daun-daun pohon yang berada disekitar tambang berwarna merah yang tidak seharusnya seperti itu. Di tambak warga juga sudah terjadi perlapisan tanah dan di atasnya itu juga berwarna merah,” tambahnya.

Sementara itu, pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Konut melalui kepala dinasnya mengatakan bahwa lokasi yang sudah diteliti bersama dengan Bapedalda tidak layak lagi untuk dilakukan kegiatan budidaya tambak. Ini menandakan bahwa mata pencaharian penduduk Kecamatan Motui, khususnya yang tambaknya sudah tercemar terancam hilang.

Meski pencemarannya terbukti dan sudah dipaparkan secara gamblang oleh tim dari Pemkab Konut bahkan dihadapan Dewan, namun pihak PT. BKA melalui Kepala Teknik Tambangnya masih tetap tidak mengakui sudah melakukan hal tersebut. “Kami baru disampaikan saat ini. Laporan itu kan mereka yang buat dan disampaikan kepada kami. Kami seharusnya dijelaskan bersama warga agar tidak sepihak,” kata Syafran.

Atas pencemaran tersebut,Dewan Konut akan memanggil perusahaan agar memberikan kompensasi atau ganti rugi terhadap warga yang telah menjadi korban. Besar dana kompensasi yang akan diberikan kepada warga selanjutnya akan diputuskan dalam pertemuan yang sudah diagendakan 30 mei mendatang. (BK)

92 queries in 0.459 seconds.